BahanBaku Industri Pembuatan Cat Berasal Dari. Sebutkan Alat Komunikasi Kuno Dan Fungsinya
DirektoratTindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri menemukan adanya pembuatan solar industri palsu. Bahan bakunya, berasal dari minyak bekas dan oli bekas yang dipasok d. Selasa, 3 Mei 2022 . Ini Bahan Baku Solar Palsu. Kombes Pol Daniel Tahi Silitonga menunjukan barang bukti solar yang dipalsukan di Tangerang (Desyinta
Limbahumumnya berasal dari kegiatan industri, pertambangan, dan domistik yaitu dari sampah rumah tangga, contohnya: cangkang kerang, tampurung kelapa, sisik ikan, kaleng bekas, botol, plastik, karet sintetis, potongan atau pelat dari logam, berbagai jenis batu-batuan, pecah-pecahan gelas, tulang-belulang, stereofoam dan lain-lain.
Limbahlunak adalah mengacu pada kata sifat lunak, yaitu limbah yang bersifat lembut, empuk, dan mudah dibentuk. Limbah lunak ini dikategorikan dalam bentuk limbah lunak organik dan limbah lunak anorganik. Jika kita pahami lebih jauh lagi bahwa limbah jenis lunak memiliki proses pelapukan yang tergolong lebih cepat dari pada limbah keras. 1.
PembuatanNata dari bahan Baku Air dengan Perlakuan Treatment Rizal Alamsyah dan Enny Hawani Loebis Balai Besar Industri Agro (BBIA), Jl. Ir. H. Juanda No.11 Bogor 16122 rizalams@kemenperin.go.id; rizalams@ diperoleh menunjukkan bahwa jenis air yang memberikan kualitas terbaik berasal dari air mineral dengan pendidihan terlebih
5rDepo. ArticlePDF AvailableAbstractKajian ini menjelaskan mengenai perkembangan kandungan timbal dalam cat, kesiapan industri lokal, dan beberapa langkah strategis dan teknis yang dapat dilakukan oleh pihak terkait untuk menghadapi rencana penghilangan kandungan timbal pada produk cat pada tahun 2020. Pengujian beberapa produk cat yang dipasarkan di Indonesia pada Agustus 2015, menunjukkan bahwa cat tembok waterbased mengandung timbal antara 10-48 mg/kg, cat enamel memiliki kandungan timbal pada kisaran 616-2254 mg/kg, cat marka jalan jenis oilbased mengandung timbal kira-kira 5876 mg/kg, cat antifouling sebesar 27 mg/kg, dan cat alkyd untuk keperluan protective coatings sebesar 50 mg/kg. Beberapa industri cat besar sudah mampu menghasilkan produk cat dengan kandungan timbal di bawah 90 mg/kg dan mencantumkan label lead free pada kemasan produknya. Tetapi industri cat menengah dan kecil belum memproduksi cat dengan kandungan timbal di bawah 90 mg/kg. Karena itu untuk menyongsong program global kandungan timbal di bawah 90 mg/kg menuju tahun 2020, pemerintah harus segera melakukan pembenahan regulasi teknis, revisi SNI, sosialisasi dan publikasi ilmiah, serta meningkatkan penelitian dan pengembangan bahan pengganti timbal. Pelatihan dan pendampingan teknis mungkin juga perlu dilakukan kepada Industri Kecil dan Menengah IKM.Kata kunci cat, timbal, regulasi Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Tantangan Industri Cat Dalam Negeri dalam Menghadapi Global Lead Paint Elimination by 2020 Deni Cahyadi dkk 75 TANTANGAN INDUSTRI CAT DALAM NEGERI DALAM MENGHADAPI GLOBAL LEAD PAINT ELIMINATION BY 2020 CHALLENGE OF NATIONAL PAINT INDUSTRY FOR FACING GLOBAL LEAD PAINT ELIMINATION BY 2020 Deni Cahyadi, Daniel Fajar Puspita, Wieke Pratiwi Balai Besar Bahan dan Barang Teknik, Jl. Sangkuriang Bandung Email ajeungan Diterima 15 September 2015 Direvisi 17 November 2015 Disetujui 14 Desember 2015 ABSTRAK Kajian ini menjelaskan mengenai perkembangan kandungan timbal dalam cat, kesiapan industri lokal, dan beberapa langkah strategis dan teknis yang dapat dilakukan oleh pihak terkait untuk menghadapi rencana penghilangan kandungan timbal pada produk cat pada tahun 2020. Pengujian beberapa produk cat yang dipasarkan di Indonesia pada Agustus 2015, menunjukkan bahwa cat tembok waterbased mengandung timbal antara 10-48 mg/kg, cat enamel memiliki kandungan timbal pada kisaran 616-2254 mg/kg, cat marka jalan jenis oilbased mengandung timbal kira-kira 5876 mg/kg, cat antifouling sebesar 27 mg/kg, dan cat alkyd untuk keperluan protective coatings sebesar 50 mg/kg. Beberapa industri cat besar sudah mampu menghasilkan produk cat dengan kandungan timbal di bawah 90 mg/kg dan mencantumkan label lead free pada kemasan produknya. Tetapi industri cat menengah dan kecil belum memproduksi cat dengan kandungan timbal di bawah 90 mg/kg. Karena itu untuk menyongsong program global kandungan timbal di bawah 90 mg/kg menuju tahun 2020, pemerintah harus segera melakukan pembenahan regulasi teknis, revisi SNI, sosialisasi dan publikasi ilmiah, serta meningkatkan penelitian dan pengembangan bahan pengganti timbal. Pelatihan dan pendampingan teknis mungkin juga perlu dilakukan kepada Industri Kecil dan Menengah IKM. Kata kunci cat, timbal, regulasi ABSTRACT This study dealt with global development of lead content in paints product, local industries readiness, and some possible strategic and technical steps for facing the Global Lead Paint Elimination Programme GAELP by 2020. Analysis of lead content in several paints in Indonesian market in August 2015 showed that the lead content in paints were as follows waterbased paints in the range of 10-48 mg/kg, enamel decoration paints 616-2254 mg/kg, oilbased roadmarking paint 5876 mg/kg, antifouling paints 27 mg/kg, and alkyd protective paint 50 mg/kg. Some big paint industries usually have produced paints with lead content below 90 mg/kg or even declare a lead free label. However most middle and small paint industries do not yet produce any lead free paints. Therefore to face Global Lead Paint Elimination by 2020, it is necessary to revise the technical regulation, Indonesian National Standard SNI, conduct dissemination and publication, also enhance research and development on lead substitute material. Training and technical assistance may be also needed for Small and Medium Enterprise SME. Keywords paints, lead, regulation PENDAHULUAN Kandungan timbal yang terkandung dalam berbagai jenis cat yang beredar di masyarakat menjadi isu yang cukup hangat pada tahun 2014 di tanah air. Menurut salah satu lembaga yang melakukan penelitian mandiri terhadap kandungan timbal dalam cat pada tahun 2013, ditemukan sebanyak 77% dari 78 sampel cat yang beredar mengandung timbal > 90 ppm, dengan kandungan timbal rata-rata dari keseluruhan sampel mencapai ppm [1]. Pada tahun 2015 ditemukan sebanyak 83% dari contoh cat yang beredar mengandung timbal > 90 ppm [15]. Timbal dapat menyebabkan gangguan kesehatan tanpa memandang usia dengan resiko terbesar pada anak-anak yang dapat meng- Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol. 5, No. 2, Desember 2015 75-79 76 akibatkan gangguan perkembangan sistem syaraf, pada ibu hamil dapat menularkan timbal ke bayi yang dikandungnya, dan keracunan timbal pada umumnya dapat mengakibatkan gangguan fungsi ginjal, keguguran, kesuburan dan gangguan fungsi organ tubuh lainnya [2]. Pada tahun 2012, IPEN International POPs Elimination Network membuat program untuk menghabiskan phasing out penggunaan bahan baku yang mengandung timbal pada produk cat [3]. Bekerjasama dengan Badan PBB untuk kesehatan dunia WHO dan lembaga lainnya untuk mendorong terwujudnya cat bebas timbal lead free paint secara global pada tahun 2020, termasuk di Indonesia. Tuntutan global terkait penghilangan phase out kandungan timbal dalam komoditi cat tentu tidak bisa dihindari oleh seluruh stake holder industri cat dalam negeri. Dukungan dari pihak pemerintah selaku pemegang kebijakan, pihak industri selaku pelaku usaha, dan masyarakat atau industri pengguna selaku konsumen mutlak diperlukan supaya industri nasional dapat bersaing dan tidak dirugikan dengan menjadi lokasi produksi ataupun konsumsi cat yang berpotensi membahayakan kesehatan dan tidak ramah lingkungan akibat terlambat mengikuti perkembangan industri internasional. Perkembangan program penghilangan timbal pada produk cat lead free paint telah terlebih dahulu dilaksanakan di negara maju dan beberapa negara berkembang baik di Asia maupun di Afrika. Tabel 1. Program Penghapusan Timbal dalam Cat di Asia No. Negara dalam cat kurun waktu 2012-dalam tahap pengkajian dan penyusunan regulasi dalam tahap pengusulan regulasi Timbal dalam cat berasal dari penggunaan bahan baku penyusunan cat baik sebagai pigmen, bahan pengering, bahan anti korosi dan bahan-bahan yang mengandung timbal sebagai pengotor unintentional ingredients. Pigmen yang mengandung timbal di-antaranya adalah timbal II kromat PbCrO4 atau dikenal dengan nama Chrome Yellow, timbal oksida Pb3O4 atau red lead, dan timbal karbonat atau white lead. Bahan pengering dryer merupakan senyawa kimia yang digunakan pada cat minyak enamel untuk menyempurnakan proses pembentukan lapisan cat kering. Dryer mengan-dung senyawa timbal diantaranya adalah timbal naftanat, timbal asetat, dan timbal oktoat. Timbal oksida atau red lead dan senyawa timbal lainnya dapat digunakan sebagai inhibitor korosi dan meningkatkan fungsi perlindungan terhadap karat. Harga yang murah dan kualitas perlindungan yang cukup baik menjadi pertimbangan penggunaan bahan timbal oksida sebagai inhibitor korosi. Senyawa timbal dalam cat dapat juga berasal dari pengotor yang terkandung dalam bahan-bahan penyusun cat seperti pengotor dalam bahan pengisi filler, pewarna, dan aditif. Kandungan timbal yang terakumulasi secara tidak disengaja dan berasal dari bahan pengotor ini termasuk dalam kategori unintentional ingredients. Berdasarkan sifat ikatan kimia unsur timbal dalam cat, pencemaran timbal dari produk cat dapat terjadi melalui mekanisme migrasi unsur atau melalui timbal terikat yang terkandung dalam produk cat tersebut. Pada mainan anak, baik yang diwarnai atau dilapisi dengan cat, persyaratan kandungan timbal dalam cat maksimum 90 mg/kg yang ditentukan berdasar-kan mekanisme migrasi timbal dari material ke lingkungan. Analisanya mengguna-kan metode perendaman dengan HCl encer pada pH 1,5 selama 1 jam [5]. Kandungan timbal dalam cat dapat di analisa dengan menggunakan beberapa metode yaitu Chemical Test Kit, Flame Atomic Absorption Spectrometry FAAS, Graphite Furnace Atomic Absorption Spectrometry GFAAS, Inductively Coupled Plasma – Atomic Emission Spectrometry ICP-AES atau menggunakan X-Ray Fluorescence XRF [6]. Pada tahun 2014 Badan Standardisasi Nasional BSN menerbitkan SNI 35642014“Cat Tembok Emulsi” dan SNI 80112014, “Cat Dekoratif Berbasis Pelarut Organik” dengan melakukan pembatasan kandungan logam berbahaya termasuk timbal. Persyaratan kandungan timbal untuk cat tembok emulsi maksimum 90 ppm dan pada cat dekoratif Tantangan Industri Cat Dalam Negeri dalam Menghadapi Global Lead Paint Elimination by 2020 Deni Cahyadi dkk 77 berbasis pelarut organik maksimum 600 ppm. Lahirnya SNI ini merupakan salah satu langkah nyata dari pemerintah untuk mencegah dan mengurangi penggunaan bahan baku yang mengandung timbal di industri cat terutama untuk produk cat yang digunakan secara bebas oleh masyarakat umum atau cat domestik [7,8]. Regulasi terkait produk cat domestik dan cat untuk keperluan industri protective coating seluruhnya masih bersifat sukarela atau belum diwajibkan. Pada tanggal 5 Juni 2015, BSN mengeluarkan pengumuman Program Nasional Regulasi Teknik PNRT tahun 2015-2016, salah satunya termasuk produk cat dengan judul “Cat Antifouling untuk Lambung Bawah Kapal Baja, Mutu dan Cara Uji”. Berdasarkan pengumuman tersebut, PNRT direncanakan untuk diberlakukan secara wajib dengan mengacu kepada revisi SNI 06-0502-1989. Untuk jenis cat yang lain belum ada rencana untuk diberlakukan secara wajib [9]. Produk cat sangat bervariasi dan dapat dikelompokkan menurut beberapa kategori atau tinjauan. Apabila ditinjau dari aspek material penyusunnya, produk cat dapat dikelompokkan menjadi cat jenis epoksi, alkyd, polyurethane, acrylic, chlorinated rubber, dan latex. Ditinjau dari aspek sifat kelarutannya, cat dapat dikelompokkan menjadi jenis cat berbasis air water based dan cat berbasis pelarut organik solvent based. Dari aspek fungsi dikelompok-kan menjadi jenis cat dekoratif decorative coating dan cat protektif protective coating. Dan dari aspek pengguna atau keperluannya dapat dibagi menjadi cat untuk konsumen umum domestik dan cat untuk industri. Menghilangkan timbal dalam cat tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pemerintah tentu tidak dapat begitu saja membuat regulasi yang ketat terkait pelarangan penggunaan timbal pada produk cat, tanpa mempertimbangkan berbagai dampak yang akan timbul pada aspek lain, seperti pertumbuhan ekonomi, perdagangan, kondisi masyarakat, dan kesiapan industri lokal baik industri besar maupun Industri Kecil Menengah IKM. Negara–negara maju yang melakukan inisiasi supaya penggunaan timbal dalam cat dihentikan di seluruh dunia pada tahun 2020 melalui diluncurkannya program Global Lead Paint Elimination by 2020. Persiapan tentu telah dilakukan di negara masing-masing sebelum memberi usulan. Pemerintah Amerika Serikat misalnya, memulai langkah untuk mengurangi kandungan timbal dalam cat sejak tahun 1978 melalui regulasi yang dikeluarkan oleh Consumer Product Safety Comission CPSC, 16 Code of Federal Regulation CFR part 1303. CFR ini berisi larangan penggunaan cat yang me-ngandung timbal di atas 0,06% berat 600 ppm tanpa menyebutkan metode uji yang harus digunakan. Revisi regulasi tersebut kemudian dilakukan pada tahun 2011 dengan menurunkan batas kandungan timbal menjadi maksimum 0,009% berat 90 ppm [10]. Kurun waktu selama 33 tahun merupakan masa yang diperlukan pemerintah Amerika Serikat untuk mempersiap-kan diri dalam mengeluarkan batasan kandungan timbal dalam cat sampai sebesar maksimum 90 ppm. Indonesia dan negara–negara berkembang lainnya dituntut untuk melakukan pembatasan kandungan timbal dalam cat maksimum sebesar 90 ppm hanya dalam kurun waktu 5 tahun 2015–2020. Kajian ini menjelaskan perkembangan program penghapusan cat dengan kandungan timbal di Indonesia dan tantangan industri cat nasional. Uji petik beberapa cat yang beredar di pasaran dilakukan untuk memperkuat diskusi. Makalah ini ditutup dengan uraian singkat beberapa langkah strategis dan teknis untuk menghadapi program penghilangan kandungan timbal pada produk cat pada tahun 2020. BAHAN DAN METODE Bahan yang dijadikan contoh uji terdiri dari 3 tiga produk cat tembok, 6 enam produk cat enamel, 1 satu produk cat antifouling, 1 satu produk cat alkyd, dan 1 satu produk cat marka jalan. Pengujian dilakukan pada Agustus 2015. Pengujian dilakukan di Laboratorium Balai Besar Bahan dan Barang Teknik pada bulan Agustus 2015 dengan menggunakan metode AAS Atomic Absorption Spectrometry. Alat yang digunakan adalah Flame-AAS, merek Perkin Elmer model Analyst 100. Preparasi contoh dilakukan dengan metode acid digestion. Contoh cat basah dioleskan pada permukaan kaca transparan. Setelah kering, film lapisan tipis cat kering dikelupas dan dipotong kecil-kecil, kemudian ditimbang dengan keteliti-an 0,1 mg. Film ditempatkan di dalam gelas kimia, dan direbus dengan 3 mL HNO3 pekat dan 1 mL H2O2 30% di atas hot plate api kecil sampai sebagian besar asam menguap [1]. Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol. 5, No. 2, Desember 2015 75-79 78 Perlakuan ini dilakukan dua kali. Gelas kimia berisi contoh dibilas dan diencerkan dengan aquadest dalam labu ukur untuk pengujian dengan AAS. Kurva kalibrasi AAS disajikan di Gambar 1. Gambar 1. Kurva Kalibrasi AAS Standar Pb HASIL DAN PEMBAHASAN Cat tembok ternyata memiliki kandungan timbal paling rendah dalam kisaran 10-48 mg/kg Tabel 2. Cat ini memenuhi baku mutu nasional yaitu di bawah 90 mg/kg [7]. Cat enamel memiliki kandungan timbal pada kisaran 616–2254 mg/kg atau di atas persyartan 600 mg/kg [8]. Jadi, cat enamel tidak memenuhi persyaratan nasional. Tabel 2. Hasil Pengujian Kandungan Pb No. Keterangan untuk Cat Antifouling warna merah tua Langkah-Langkah Teknis Produsen cat lokal nasional tentunya harus melakukan upaya-upaya untuk tidak lagi menggunakan bahan baku yang mengandung timbal pada produk yang dihasilkan. Beberapa industri cat besar seperti ICI, Pacific Paint, Propan, Jotun dan Mowilex, [11] sudah dapat menghasilkan produk cat yang ramah lingkungan dan mencantumkan logo bebas timbal pada kemasan produknya. Jenis produk cat yang masih menggunakan senyawa timbal di atas baku mutu harus dihilangkan. Langkah abolisi atau penarikan terhadap Standar Nasional Indonesia SNI terkait produk cat jenis ini diharapkan dapat mendorong industri untuk berhenti memproduksi cat yang SNI nya diabolisi. SNI yang termasuk kategori ini diantaranya adalah SNI Spesifikasi Cat Merah Timbal Siap Pakai, dengan kandungan timbal oksida Pb3O4 yang dipersyaratkan adalah minimum 65% berat [12], dan SNI 06-0063-1987 Mutu Cat Dasar Meni Timbal untuk Besi dan Baja dengan persyaratan kandungan timbal oksida Pb3O4 minimum 20% berat [13]. Sebagai bentuk dukungan teknis terhadap industri pengguna dan produsen, pemerintah dapat mendorong supaya lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan, dan produsen bahan baku untuk bergerak cepat mencari bahan baku alternatif pengganti timbal oksida Pb3O4. Salah satu material yang memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai substitusi senyawa timbal adalah besi oksida Fe3O4 [14]. Besi oksida Fe3O4 dapat digunakan sebagai pigmen warna kuning, merah, cokelat dan hitam, tergantung valensinya. Selain itu, kromium oksida CrO2 dapat dijadikan sebagai pengganti pigmen warna biru, hijau, dan orange [16]. Sosialisasi teknis atau publikasi ilmiah tentang larangan penggunaan senyawa timbal sebagai bahan aditif juga perlu dilakukan, sehingga dapat mendorong pihak industri untuk melakukan langkah substitusi bahan baku. Senyawa organologam dari timbal Pb yang digunakan sebagai bahan aditif pengering dryer pada cat jenis enamel dapat diganti dengan senyawa organologam misalnya kobalt Co [3]. Kandungan timbal yang berasal dari pengotor atau unintentional yang secara tidak sengaja atau sadar terdapat dalam produk cat, dapat dihindari dengan cara meminta CoACertificate of Analysis, atau bukti teknis lainnya dari produsen bahan baku. Sertifikat ini harus menunjukkan bahwa bahan tersebut tidak mengandung senyawa timbal sebagai pengotor. Bagi industri besar, substitusi senyawa Pb ini diperkirakan tidak akan mengalami kesulitan untuk menghasilkan cat bebas timbal. Dampak yang terjadi pada kenaikan harga dapat diimbangi dengan efisiensi di produksi, promosi dan merek. Industri Kecil Menengah IKM pada umumnya belum memiliki kemampuan riset dany = 0,014 x R² = 0,999 Absorban Konsentrasi standar, mg/L Tantangan Industri Cat Dalam Negeri dalam Menghadapi Global Lead Paint Elimination by 2020 Deni Cahyadi dkk 79 pengembangan R&D yang cukup untuk melakukan pengembangan produk. Perubahan pada spesifikasi produk, formulasi dan bahan baku, dikhawatirkan akan sangat menyulitkan pihak IKM. Pemerintah perlu melakukan upaya teknis yang dapat membantu IKM supaya dapat menghasilkan produk cat bebas timbal. Pelatihan dan pendampingan teknis bagi IKM, akan sangat menolong IKM untuk tetap bertahan apabila regulasi pelarangan timbal pada tahun 2020 diterapkan. Pendampingan oleh lembaga Litbang pemerintah berupa bimbingan teknis dan formulasi dapat mempercepat adaptasi dan alih teknologi IKM tanpa menambah beban modal untuk melakukan riset. KESIMPULAN 1. Kandungan timbal dalam cat tembok, cat antifouling, dan cat alkyd di Indonesia dapat memenuhi persyaratan SNI di bawah 90 mg/kg, yaitu berturut-turut 10-48 mg/kg, 27 mg/kg, dan 50 mg/kg. Sedangkan kandungan timbal dalam cat enamel dan cat marka jalan melebihi 90 mg/kg. 2. Rencana penghilangan timbal dalam produk melalui Global Lead Paint Elimination by 2020 perlu didukung oleh semua pihak terkait, untuk mengurangi resiko gangguan kesehatan dan membantu menjaga kelestarian lingkungan hidup. 3. Langkah yang bersifat strategis maupun teknis perlu dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkan rencana tersebut, diantaranya dengan melakukan pembenahan regulasi tek-nis, SNI, sosialisasi, publikasi ilmiah, memak-simalkan peran lembaga penelitian pemerintah, pelatihan dan pendampingan IKM. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Balai Besar Bahan dan Barang Teknik, serta Sdr. Indra Hadiwijaya dan Sdr. Jajuli yang telah membantu dalam penyusunan kajian ini. DAFTAR PUSTAKA [1] Yuyun Ismawati, dkk., 2013, Laporan Nasional Timbal dalam Cat Enamel Rumah Tangga di Indonesia, Balifokus-IPEN. [2] Suherni, 2010, Keracunan Timbal di Indonesia, LEAD Group Inc., Sydney – Australia. [3] Weinberg, J. & Scott Clark, 2012, Global Lead Paint Elimination by 2020, “A test of the Effectiveness of the Strategic Approach to International Chemicals Management”, [4] IPEN, 2015, “Asian Lead Paint Elimination Project”, News Letter, Vol. 4, issue 1. documents, diakses 20 January [5] SNI “Keamanan Mainan, Bagian 3 Spesifikasi untuk Perpindahan Elemen-elemen Tertentu”, BSN. [6] WHO – IOMC, 2011, “Brief Guide to Analytical Methods For Measuring Lead in Paint”, WHO Library Cataloguing-in-Publication Data ISBN 978 924150212 2. [7] SNI 35642014, “Cat tembok Emulsi”, BSN. [8] SNI 80112014, “Cat Dekoratif Berbasis Pelarut Organik”, BSN. [9] Program Nasional Regulasi Teknis PNRT tahun 2015-2016, http// www. /uploads/download/ PNRT _2015 diakses10 Juni 2015, BSN. [10] Consumer Product Safety Comission, “Ban of Lead-Containing Paint and Certain Consumer Products Bearing Lead”, Containing Paint, 16 1303”, 2011, CPSC. [11] diakses 11 Juni 2015. [12] SNI “Spesifikasi Cat Merah Timbal Siap Pakai”, BSN. [13] SNI 06-0063-1987, “Mutu Cat Dasar Meni Timbal untuk Besi dan Baja”, BSN. [14] Taufiqurrahman, N., dkk. 2012, “Review Pengembangan Teknologi Pengolahan Sumber Daya Pasir Besi Menjadi Produk Bes/Baja, Pigmen, Bahan Keramik, Magnet, Kosmetik, Dan Fotokatalistik Dalam Mendukung Industri Nasional”, Prosiding InSINas, 2012. [15] Yuyun Ismawati, dkk. , 2015, “Laporan Nasional Timbal dalam Cat Enamel Rumah Tangga di Indonesia”, Balifokus-IPEN. [16] Paint and Pigments, ChemProcesses/polymers/ diakses 11 Desember 2014. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Nasional Timbal dalam Cat Enamel Rumah Tangga di IndonesiaYuyun IsmawatiYuyun Ismawati, dkk., 2015, "Laporan Nasional Timbal dalam Cat Enamel Rumah Tangga di Indonesia", test of the Effectiveness of the Strategic Approach to International Chemicals ManagementJ WeinbergScott ClarkWeinberg, J. & Scott Clark, 2012, Global Lead Paint Elimination by 2020, "A test of the Effectiveness of the Strategic Approach to International Chemicals Management", Lead Paint Elimination ProjectIpenIPEN, 2015, "Asian Lead Paint Elimination Project", News Letter, Vol. 4, issue 1. documents, diakses 20 January Guide to Analytical Methods For Measuring Lead in PaintWho -IomcWHO -IOMC, 2011, "Brief Guide to Analytical Methods For Measuring Lead in Paint", WHO Library Cataloguing-in-Publication Data ISBN 978 924150212 Dekoratif Berbasis Pelarut OrganikSNI 80112014, "Cat Dekoratif Berbasis Pelarut Organik", Pengembangan Teknologi Pengolahan Sumber Daya Pasir Besi Menjadi Produk Bes/BajaN TaufiqurrahmanTaufiqurrahman, N., dkk. 2012, "Review Pengembangan Teknologi Pengolahan Sumber Daya Pasir Besi Menjadi Produk Bes/Baja, Pigmen, Bahan Keramik, Magnet, Kosmetik, Dan Fotokatalistik Dalam Mendukung Industri Nasional", Prosiding InSINas, 2012.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Indonesia sebagai negara agraris menjadikan nasi sebagai makanan pokoknya. Bayangkan saja konsumsi pada rumah tangga pada tahun 2019 ialah 20, 68 juta per tahun atau sekitar 77,5 kg per kapita per tahun BPS, 2019. Beras yang kita makan sehari-hari tentunya sudah melewati banyak proses untuk siap dikonsumsi. Salah satu prosesnya adalah melalui proses penggilingan. Proses penggilingan ini meninggalkan banyak limbah padi, salah satunya adalah temukut yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Apa itu Temukut? Temukut adalah produk sampingan yang tidak terpakai dari pengolahan padi. Temukut terdiri dari bibit padi, bekatul, dan beras pecah Tan et al, 2015. Temukut ini memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, protein dan serat yang rendah. Tingginya ketersediaan temukut hasil dari proses penggilingan padi dan tingginya kandungan karbohidrat, temukut dapat dijadikan sebagai bahan baku utama energi alternatif pembuatan bioetanol. Lalu, Apa itu Bioetanol? Bioetanol adalah bahan bakar nabati yang diproduksi melalui fermentasi material yang berasal dari tanaman atau limbah. Produksi bioetanol telah berkembang pesat sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar fosil yang terbatas dan untuk mengatasi masalah lingkungan seperti perubahan iklim. Berbagai jenis bahan baku dapat digunakan untuk produksi bioetanol, termasuk jagung, tebu, gandum, barley, beras, sorgum, switchgrass, dan biomassa kayu. Namun, salah satu dampak dari pemanfaatan tanaman pangan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol adalah persaingan produksi pangan dan pakan yang pada akhirnya akan mempengaruhi keberlanjutan tanaman yang digunakan. Oleh karena itu, solusi alternatif untuk menggantikan bahan baku pembuatan bioetanol ini sangat penting. Bahan baku alternatif yang bersumber dari limbah pertanian seperti temukut dapat mekanisme bioteknologi memanfaatkan mikroorganisme untuk pembuatan bioetanol dari temukut? Produksi bioetanol ini melibatkan proses perubahan karbohidrat kompleks selulosa, hemiselulosa, dan pati menjadi gula sederhana melalui hidrolisis. Gula sederhana kemudian difermentasi menggunakan mikroorganisme seperti ragi atau bakteri untuk menghasilkan etanol dan karbon dioksida. Temukut dapat dijadikan sebagai bahan baku potensial untuk produksi bioetanol karena kandungan karbohidratnya yang tinggi. Temukut memiliki kandungan selulosa sebesar 38,9% dan hemiselulosa sebesar 19,5%, yang mengindikasikan potensinya untuk produksi bioetanol Kumar dkk., 2017. Temukut dapat secara efektif dikonversi menjadi bioetanol melalui kombinasi hidrolisis asam dan fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae. Penelitian oleh Li dkk. 2017 juga mempelajari potensi temukut untuk produksi bioetanol melalui sakarifikasi dan fermentasi simultan SSF menggunakan Saccharomyces cerevisiae. Para peneliti menemukan bahwa SSF pada beras Brewer menghasilkan rendemen bioetanol sebesar 81,4%, yang mengindikasikan potensinya sebagai bahan baku untuk produksi umumnya, mikroorganisme yang digunakan untuk fermentasi gula sederhana menjadi bioetanol adalah adalah ragi Saccharomyces cerevisiae, biasa digunakan dalam industri makanan dan pembuatan minuman beralkohol. Saccharomyces cerevisiae menghasilkan hasil etanol yang lebih tinggi dibandingkan dengan spesies ragi lainnya dalam produksi bioetanol dari jerami padi Jing et al, 2021. Namun, seiring dengan berkembangnya bioteknologi, peneliti mencoba untuk menggunakan bakteri. Bakteri yang digunakan adalah Zymomonas mobilis. Bakteri ini memiliki kemampuan untuk memfermentasi glukosa dan fruktosa secara lebih efisien dibandingkan S. cerevisiae, pertumbuhan yang lebih cepat, dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap etanol sehingga menghasilkan etanol yang lebih yang dilakukan oleh Ma'As dkk. 2020 mencoba membandingkan hasil produksi etanol dengan Saccharomyces cerevisiae dan Zymomonas mobilis. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa hasil laju produksi optimal pembuatan bioetanol adalah fermentasi temukut adalah dengan menggunakan Zymomonas mobilis. Penggunaan Zymomonas mobilis dapat mengoptimalkan hasil bioetanol mencapai 92,0%, yang mengindikasikan bahwa proses tersebut sangat efisien dan memiliki tingkat produktivitas yang tinggi dalam mengubah gula yang tersedia menjadi etanol. Hasil yang optimal tersebut dikarenakan bakteri memiliki kemampuan untuk mengkonsumsi glukosa yang tersedia dengan cepat dan mengubahnya menjadi etanol lebih efisien dibandingkan dengan S. cerevisiae. 1 2 3 Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
100% found this document useful 1 vote2K views4 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 1 vote2K views4 pagesLimbah Yang Dihasilkan Dalam Proses Produksi CatJump to Page You are on page 1of 4 You're Reading a Free Preview Page 3 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Tutorial Membuat Cat Tembok Berkualitas Mengenal Extender Pigment from Pendahuluan Cat adalah salah satu bahan yang sering digunakan untuk melindungi atau mempercantik suatu benda atau permukaan. Namun, tahukah Anda bahwa cat tidak hanya terdiri dari pigmen atau warna saja? Ada banyak bahan baku kimia yang digunakan dalam pembuatan cat, dan dalam artikel ini, kita akan membahasnya lebih lanjut. Pigmen Pigmen adalah bahan baku yang digunakan untuk memberikan warna pada cat. Pigmen bisa diperoleh dari bahan alami atau sintetis. Contoh bahan alami yang digunakan sebagai pigmen adalah biji buah acai dan kulit kayu secang. Sedangkan contoh bahan sintetis adalah titanium dioksida dan kadmium merah. Pelarut Pelarut atau solvent adalah bahan kimia yang digunakan untuk melarutkan pigmen dan membuat cat menjadi lebih mudah dicampur dan diaplikasikan. Contoh pelarut adalah xylene, toluene, dan white spirit. Pelarut yang digunakan dalam pembuatan cat harus dipilih dengan hati-hati, karena dapat berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan. Bahan Pengikat Bahan pengikat atau binder adalah bahan kimia yang berfungsi untuk menyatukan pigmen dan pelarut, serta membentuk lapisan cat yang kuat dan tahan lama. Contoh bahan pengikat adalah resin akrilik, resin epoksi, dan resin poliuretan. Pengawet Pengawet atau preservative adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme dalam cat. Pengawet sangat penting dalam pembuatan cat, karena dapat memperpanjang umur simpan dan kualitas cat. Contoh pengawet adalah formaldehid, metilisotiazolinon, dan asam benzoat. Aditif Aditif adalah bahan kimia tambahan yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia cat. Contoh aditif adalah pengental, penghilang busa, dan bahan antioksidan. Aditif juga dapat digunakan untuk memberikan efek tekstur atau efek mengkilap pada cat. Pengemasan Setelah semua bahan baku kimia telah dicampur, cat akan dikemas dalam wadah yang sesuai. Wadah yang digunakan harus aman dan sesuai dengan standar keselamatan dan lingkungan. Contoh wadah yang digunakan adalah drum, kaleng, dan botol. Proses Pembuatan Proses pembuatan cat dimulai dengan mencampurkan pigmen dan pelarut dalam suatu wadah, kemudian ditambahkan bahan pengikat dan pengawet. Setelah itu, aditif ditambahkan sesuai kebutuhan. Kemudian campuran tersebut diaduk hingga homogen dan disaring untuk menghilangkan partikel yang tidak diinginkan. Proses ini dilakukan secara terus-menerus hingga diperoleh cat yang berkualitas. Kesimpulan Bahan baku kimia yang digunakan dalam pembuatan cat sangat beragam dan harus dipilih dengan hati-hati. Proses pembuatan cat membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang cukup agar diperoleh hasil yang berkualitas. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih produsen cat yang terpercaya dan memiliki standar kualitas yang baik.
Industri pembuatan cat merupakan salah satu industri tertua di dunia. Sekitar tahun lalu, manusia yang hidup di gua-gua menggunakan cat untuk kegiatan komunikasi, dekorasi dan proteksi. Mereka menggunakan matrial-material yang tersedia di alam seperti arang karbon, darah, susu, dan sadapan dari tanaman-tanaman yang memiliki warna yang menarik. Yang mengejutkan, cat-cat ini mempunyai keawetan yang baik, seperti yang ditunjukkan pada lukisan gua di Altamira Spanyol, Lascaux Spanyol, cat batu orang Aborigin di Arnhem Land Australia, dan lukisan-lukisan prasejarah lainnya yang ditemukan. Orang-orang Mesir kuno mengembangkan cat menjadi lebih kaya warna, mereka menemukan cat warna biru, merah, dan hitam dengan mengambilnya dari akar tanaman tertentu. Kemudian orang-orang Mesir itu menemukan kasein sebagai perekatnya. Seiring dengan waktu, manusia mulai menemukan minyak tanaman dan resin dari fosil untuk mengganti darah dan susu sebagai perekat cat. Saat ini walaupun telah ditemukan perekat/resin yang semakin baik dengan berkembangnya teknologi kimia, resin-resin natural hingga kini masih banyak dipakai. Salah satu cara meningkatkan nilai tambah suatu bahan adalah dengan melapisi permukaan bahan tersebut dengan bahan lain yang lebih lebih tinggi nilainya. Pengetahuan tentang pelapisan permukaan bahan, secara umum dikenal sebagai surface coating knowledge. Bagian ini meliputi metal coating electro coating, galvanizing, plastic coating, paper coating, powder coating dan tentang cat itu sendiri. Jadi cat merupakan bagian kecil dari sebuah ilmu yang jauh lebih besar, yaitu ilmu tentang surface coating. Cat adalah suatu cairan yang dipakai untuk melapisi permukaan suatu bahan dengan tujuan memperindah decorative, memperkuat reinforcing atau melindungi protective bahan tersebut. Setelah dikenakan pada permukaan dan mengering, cat akan membentuk lapisan tipis yang melekat kuat dan padat pada permukaan tersebut. Pelekatan cat ke permukaan dapat dilakukan dengan banyak cara diusapkan wiping, dilumurkan, dikuas, disemprotkan spray, dicelupkan dipping atau dengan cara yang lain. Cat dapat digunakan pada hampir semua jenis objek, antara lain untuk menghasilkan karya seni oleh pelukis untuk membuat lukisan, salutan industri industrial coating, bantuan pengemudi marka jalan, atau pengawet untuk mencegah korosi atau kerusakan oleh air. Secara umum cat tersusun dari 5 bahan dasar, yakni Binder resin, sebagai pelekat/lem Resin atau binder merupakan komponen utama dan yang paling penting dalam cat. Resin berfungsi merekatkan komponen-komponen yang ada dan melekatkan keseluruhan bahan pada permukaan suatu bahan membentuk film. Resin pada dasarnya adalah polymer dimana pada temperatur ruang atau temperatur applikasi bentuknya cair, bersifat lengket dan kental. Ada banyak jenis resin, seperti Natural Oil, Alkyd, Nitro Cellulose, Polyester, Melamine, Acrylic, Epoxy, Polyurethane, Silicone, Fluorocarbon, Venyl, Cellolosic, dan lain-lain Setiap jenis resin mempunyai banyak sekali tipe dan turunanya, bahkan kombinasi antara satu resin dengan resin yang lain juga menambah perbendaharaan jenis resin baru. Daya tahan, kekuatan dan karakter cat secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh jenis resin yang dipakai. Pigment pewarna Pigment dan dyestuff adalah bagian dari colorantpewarna. Dyestuff bersifat larut dalam solvent, sedang pigment tidak. Pigment merupakan padatan halus bubuk yang ditambahkan ke dalam cat. Pigment memiliki beberapa fungsi penting dalam cat seperti memberi karakter khas pada penampakan cat tersebut, seperti warna, derajat kilap gloss maupun daya tutupnya, memberi nilai tambah pada karakter kekutan cat tersebut, seperti kekuatan terhadap cuaca, korosi, panas atau api, serta meningkatkan sifat, seperti meningkatkan kekerasan, kelenturan, daya tahan terhadap abrasi. Secara umum pigment dibagi menjadi dua kategori besar, yakni pigment organik dan pigment anorganik. Pigment organik adalah pigment yang terbentuk dari senyawa-senyawa organic karbon, seperti Fast Red 2R - Pigment Red 21, Phthalocyanine Blue, Phthalocyanine Green G - Pigment Green 774260 dan lain-lain. Sedangkan contoh pigment anorganik adalah Zinc Oxide, Zinc Chromate, dan lain-lain. Pigment anorganik mempunyai daya tahan solvent, kimia, daya tutup, kemudahan terdispersi, stabilitas terhadap panas, cahaya dan cuaca yang lebih bagus dibanding pigment organic. Namun dalam kecerahan dan tinting strength, pigment organic umumnya lebih bagus dibanding anorganik. Solvent pelarut Sekalipun setelah pemakaian, solvent akan terbuang ke lingkungan dan tidak menjadi bagian dari lapisan cat, namun peran solvent selama proses pembuatan, penyimpanan dan pemakaian cat, memperlihatkan peran yang dominan dibanding komponen lainnya. Pada saat pembuatan cat, solvent memberi kontribusi sedemikian rupa sehingga campuran mempunyai kekentalan yang pas untuk diproses diaduk, dicampur, digiling dan lain-lain. Dengan penambahan solvent yang tepat dan cukup akan menurunkan kekentalan dari resin atau campuran pada suatu titik dimana kekentalannya memenuhi syarat untuk masing-masing proses. Demikian halnya pada saat pemakaian cat, dengan penambahan jenis solvent yang tepat dan dengan takaran pas, maka cat bisa dikuas, dispray atau dilumurkan dengan mudah pada obyek yang akan dicat. Komposi solvent yang tepat juga memberi pengaruh optimal pula pada mekanisme penguapan dari solvent-solvent yang ada, sehingga akan membentuk film yang maksimal karakteristiknya, baik textur permukaannya, sifat kilapnya maupun kecepatan keringnya. Solvent biasanya dibagi berdasarkan struktur kimia atau karakteristik fisikanya. Penggolongan solvent berdasarkan struktur kimia adalah sebagai berikut - Hidrokarbon Sesuai namanya maka pada golongan ini terdiri dari solvent-solvent dimana unsur hidrogen H dan carbon C menjadi struktur dasarnya. Solvent-solvent golongan hidrokarbon hampir seluruhnya berasal dari hasil distilasi minyak bumi yang merupakan campuran dari beberapa sub-sub golongan bukan senyawa murni, sehingga titik didihnya berupa range dari minimum sampai maksimum, bukan merupakan titik didih tunggal. - Oksigenated Solvent Oksigenated sovent atau solvent dengan atom oksigen adalah solvent-solvent yang struktur kimianya mengandung atom oksigen. Termasuk dalam kategori ini adalah golongan ester, ether, ketone dan alkohol. Filler/Extender bahan pengisi Extender atau filler ditambahkan ke dalam cat dengan tujuan untuk menurunkan harga, namun dalam hal tertentu extender ditambahkan untuk memberbaiki sifat cat. Extender umumnya mempunyai refractive index yang kecil atau rendah daya tutupnya dibanding pigment. Contoh dari filler/extender adalah Calcium Carbonat, Kaolin Clay, dan Talc Powder Additive bahan tambahan Disamping ke empat komponen seperti resin, pigmen, solvent dan extender, ada beberapa komponen lain yang ditambahkan dalam jumlah sangat sedikit ke dalam cat, yakni additive. Komponen-komponen ini, sekalipun ditambahkan dalam jumlah sedikit, namun memberi kontribusi yang sangat besar terhadap sifat cat, sehingga cat dapat diproses, disimpan dan dipakai seperti harapan kita. Additive biasanya dibagi berdasarkan fungsinya. Berikut ini adalah beberapa additive yang biasa dipakai dalam industri cat. MEMPERCEPAT ATAU MEMPERMUDAH PROSES WETTING AGENT, untuk mempermudah atau mempercepat proses penggantian udara dan air oleh resin pada permukaan pigment atau extender DISPERSING AGENT, untuk mempermudah distribusi pigment dan extender ke dalam cairan resin MENGURANGI AKIBAT JELEK SELAMA PENYIMPANAN ANTI SKINNING AGENT, untuk mencegah proses pengulitan pada permukaan cat oil atau alkyd base resin selama penyimpanan THICKENING AGENT, untuk mempertahankan kekentalan cat atau melindungi cat selalu dalam kondisi koloid ANTI SETTLING AGENT, untuk mempertahankan pigment selalu berada pada kondisi dispersi yang stabil dalam campuran, sehingga tidak mengendap. MENGURANGI AKIBAT JELEK SELAMA PEMAKAIAN ANTI SAGGING, untuk mencegah turunnya atau melelehnya cat jika dipakai pada permukaan tegak LEVELLING AGENT, untuk meningkatkan kualitas permukaan cat, sehingga permukaannya rata tidak bergelombang ANTI FLOODING & FLOATING, untuk mencegah pemisahan pigment baik secara vertikal maupun horisontal ANTI FOAMING, untuk mencegah atau menghilangkan timbulnya busa pada permukaan cat MEMPERBAIKI ATAU MERUBAH SIFAT FILM ANTI STATIC AGENT, untuk mencegah atau mengurangi timbulnya arus listrik static selama pemaikaian DRYER, untuk mempercepat reaksi oksidasi dan polymerisasi dari ikatan tak jenuh pada cat jenis alkyd atau synthetic mengandung drying oil. CATALYST, untuk mempercepat reaksi crosslinking antara resin amino dan alkyd polyol atau turunannya, biasanya dipakai senyawa-senyawa asam organik maupun anorganik PLASTICIZER, untuk meningkatkan fleksibilitas cat, terutama pada cat yang mempunyai berat molekul yang besar, seperti NC. ANTI FOULING AGENT, untuk mencegah timbulnya atau melekatnya tumbuhan air laut pada dasar dinding kapal MATTING AGENT, untuk menurunkan derajad kilap lapisan cat dari gloss ke semi gloss atau dari semi ke dof/matt ANTI FUNGUS, untuk mencegah timbulnya jamur Mengenal Bahan Baku Pembuatan Cat Tembok Oleh
bahan baku industri pembuatan cat berasal dari